Tumpek Bubuh juga dikenal sebagai Tumpek Wariga, Tumpek Uduh, atau Tumpek Pengatag. Hari raya ini diperingati 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.
Secara filosofis, Tumpek Bubuh merupakan hari raya umat Hindu di Bali untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara, yang merupakan penguasa dan pemelihara tumbuh-tumbuhan. Perayaan ini memiliki beberapa makna mendalam:
- Rasa syukur kepada alam: Ini adalah wujud terima kasih manusia kepada alam, khususnya tumbuh-tumbuhan yang telah memberikan kehidupan.
- Hubungan harmonis dengan alam: Hari raya ini adalah implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan baik antara manusia dengan alam semesta.
- Pentingnya pelestarian lingkungan: Perayaan ini mengajarkan umat Hindu untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan demi kesejahteraan bersama.
- Menghormati tumbuhan: Pada hari ini, umat Hindu dilarang menebang atau memetik hasil dari tumbuhan, yang menunjukkan penghormatan terhadap keberadaan tumbuhan sebagai sumber kehidupan.
- Simbolisasi persembahan bubur: Kata "bubuh" merujuk pada persembahan bubur sumsum yang diberikan kepada pohon-pohon atau tumbuh-tumbuhan. Bubur ini melambangkan makanan yang menyehatkan dan memberikan kehidupan, yang diharapkan juga dapat membuat tanaman tumbuh subur.
Secara keseluruhan, Tumpek Bubuh mengajarkan kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Dengan merawat dan menghormati alam, manusia akan mendapatkan imbalan berupa hasil bumi yang melimpah, menciptakan keseimbangan dan keharmonisan hidup.
Secara umum, Tumpek Wariga mengajarkan tentang pentingnya menghargai dan memelihara alam, khususnya tumbuh-tumbuhan.
Berikut adalah beberapa ajaran utama dari Tumpek Wariga:
- Wujud syukur kepada alam. Tumpek Wariga, yang juga dikenal sebagai Tumpek Pengatag atau Tumpek Bubuh, adalah hari untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas anugerah berupa tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dianggap sebagai sumber kehidupan yang menyediakan oksigen dan bahan makanan bagi manusia.
- Hubungan harmonis dengan alam. Perayaan ini merupakan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu membangun hubungan yang selaras antara manusia dan alam. Umat Hindu menghaturkan sesajen atau banten sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih.
- Larangan merusak tumbuhan. Selama perayaan Tumpek Wariga, ada pantangan untuk menebang atau memetik hasil dari tumbuh-tumbuhan. Larangan ini bertujuan untuk menghormati dan menjaga kelestarian tumbuhan.
- Harapan untuk hasil yang melimpah. Ritual ini juga dilakukan dengan harapan agar tumbuh-tumbuhan dapat berbuah lebat dan melimpah, khususnya sebagai persiapan untuk upacara Galungan yang jatuh 25 hari setelah Tumpek Wariga.
- Kesadaran pelestarian lingkungan. Secara lebih luas, perayaan Tumpek Wariga memiliki semangat pelestarian lingkungan. Maka dari itu, hari ini sering disebut sebagai Hari Lingkungan Hidup bagi umat Hindu di Bali.
“ SEMOGA ARTIKEL INI BISA MENAMBAH WAWASAN KITA TENTANG KEHARMONISAN ALAM UNTUK KEHIDUPAN LEBIH BAIK “