Menu

SUNGAI KOTA RASA DESA

  • Kamis, 27 Juli 2017
  • 1465x Dilihat
SUNGAI KOTA RASA DESA

“SUNGAI KOTA RASA DESA”

 

A.   Ringkasan Eksekutif

Membangun sebuah kepercayaan bagi masyarakat ataspelayanan publik yang dilakukan penyelenggarapelayanan publik merupakan kegiatan yang harusdilakukan seiring dengan harapan dan tuntutanseluruh warga negara dan penduduk tentangpeningkatan pelayanan publik dari tataran nasional sampai tataran yang paling bawah di daerah, tidak terkecuali di Kecamatan sebagai koordinator pemerintah Desa dan Kelurahan maupun desa adat, Kecamatan memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya termasuk dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dan pemberdayaan daripada masyarakatnya.

Salah satu isu strategis didalam mengembangkan peran serta masyarakat adalah untuk dapat menjaga lingkungan sekitarnya.Lingkungan yang dimaksud termasuk bagaimana menjaga kelestarian alam dan sumber daya alam lainnya. Gambaran secara umum lingkungan kota terutama sungai dan daerah aliran sungai (DAS) biasanya jorok dan kumuh penuh sampah dan air sungai yang tercemar limbah rumah tangga maupun pabrik. Hal ini disebabkan oleh karena pada umumnya daerah aliran sungai (DAS) di Kota besar termasuk Denpasar banyak penduduk yang membangun atau tinggal disempadan sungai, kesadaran masyarakatnya masih rendah dalam rangka menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut. Namun ada salah satu sungai (Tukad : Bhs Bali) yang terletak di Kelurahan Kesiman tepatnya di Banjar Ujung memiliki potensi untuk dapat dilestarikan dan dikembangkan menjadi obyek pariwisata local seperti lomba mancing, main kano (tradisional dari Ban Mobil) anak-anak berenang dan sebagainya sehingga tujuan akhir yang hendak dicapai yaitu terselamatkannya sempadan sungai dan  meningkatnya kualitas air sungai sehingga “ Mata Air tidak berubah menjadi Air Mata”

B.   Analisis Masalah

Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat tidak hanya sebatas pelayanan surat menyurat atau administrasi belaka akan tetapi jauh lebih penting adalah pelayanan kepada masyarakat untuk memberikan sebuah rasa senang, rasa nyaman, dan yang terpenting adalah pelayanan kepada masyarakat dalam melindungi kelestarian alam sekitar untuk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kesejahteraan dan kebahagiaan daripada masyarakat itu sendiri. Masalah kota besar seperti kota lainnya di Indonesia termasuk Denpasar adalah masalah kepadatan penduduk, lingkungan kumuh,  sampah dan masalah sosial lainnya. Kondisi sungai di Kota Denpasar pada umumnya masih terdapat sampah plastic yang hanyut dan sempadan sungai yang dipakai bangunan rumah maupun toko oleh warga sekitar sehingga daerah aliran sungai (DAS) tidak terlihat lagi dan tentunya masalah ini menjadi masalah besar dikemudian hari terutama menyangkut kebersihan sungai sampai kualitas air sungai itu sendiri.

Namun salah satu sungai yang ada di Banjar/Lingkungan Ujung disisi barat dan Banjar/ Lingkungan Abianangka disisi Timur sungai Kecamatan Denpasar Timur memiliki potensi yang dapat diselamatkan dan dijaga kelestariannya dikemudian hari. Kondisi sungai sebelumnya yang memang sering digunakan oleh masyarakat  sekitar untuk berenang adalah aliran irigasi besar untuk pertanian di daerah Sanur, Renon, Sumerta dan Pemecutan yang dikembangkan oleh Raja Alang Badung saat itu kira-kira pada Abad 16 yang dibantu oleh arsitek Belanda sehingga sungai ayung dapat dipecah alirannya ke Lahan Pertanian disebelah barat Sungai Ayung. Kondisi sungai sebelum Tahun 2013 belum ditata (sempadan belum dipaving untuk jogging track) dan ada penyerobotan sempadan sungai oleh pengembang sebuah perumahan di sisi timur sungai sepanjang kurang lebih 10 meter yang terlanjur terjadi sejak Tahun 1994 silam, hal inilah yang membuat masyarakat sekitar baru ngeh dan ingin menyelamatkan sungai yang memang masih asri dan masih dimanfaatkan untuk berenang masyarakat sekitarnya. Kecemasan masyarakat sekitar ditanggapi oleh Pihak Kelurahan dan Kepala Lingkungan serta Kelihan Banjar Ujung pada Tahun 2012 saat itu untuk mencari solusi agar sungai (tukad Bindu) dapat terjaga sempadannya, terjaga aliran sungainya dengan baik.

C.   Pendekatan Strategis

Melihat permasalahan tersebut ketika itu Lurah Kesiman bekerjasama dengan Kepala Lingkungan dan Kelihan Banjar serta tokoh-tokoh yang ada di Kelurahan Kesiman berinisiatif untuk membuat rencana dan kegiatan pavingisasasi disepanjang sempadan sungai Bindu. Namun anggaran yang tersedia di Kelurahan Kesiman melalui APPK tidaklah mencukupi untuk dapat mempaving (membuat jogging track) disepanjang DAS sisi barat Sungai Bindu sehingga diajukan melalui reward PNPM-Perkotaan dan karena pernah memenangi Lomba Kali Bersih pada Tahun 2013 lalu akhirnya Walikota Denpasar melalui Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kota Denpasar membantu melanjutkan pavingisasi (Joging Track) sehingga sampai di perbatasan Kecamatan Denpasar Utara. Pada Tahun 2013 dengan melihat prospek yang bagus dari Kelurahan maupun masyarakat Kelurahan Kesiman timbul keinginan untuk membantu mengembangkan kedua sisi sungai karena wilayah sebelah timur masuk wilayah Desa Kesiman Petilan  sehingga Kelurahan tidak dapat melanjutkan kegiatan tersebut sehingga disinilah peran Camat Denpasar Timur untuk memberikan pemahaman yang sama kepada Desa Kesiman Petilan untuk melakukan hal yang sama.

Salah satu upaya sebagai inovasi Kecamatan adalah dengan memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan melalui peran aktif masyarakat dengan membentuk komunitas kali bersihdengan tujuan utamanya adalah meningkatkan peran serta masyarakat dan kepedulian masyarakat terutama yang bertempat tinggal sepanjang sungai Bindu untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak lagi membuang sampah ke sungai dan kedepannya untuk mengembangkan sungai sebagai tempat rekreasi local.

Terkait peran aktif masyarakat,untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam pembangunan menurut Jedlicka (Ardika,et.al, 1993:267) menyatakan sebuah konsep pembangunan yang disebut dengan humanistic democratic partisipative managerial system sebagai konsep pengorganisasian sistem penyampaian ide-ide pembangunan.  Dengan ide ini diharapkan masyarakat (krama)  berpartisipasi  secara aktif dalam mengambil keputusan untuk menerima ide-ide pembangunan sehingga masyarakat dapat mengerti segala sesuatu yang seharusnya dilaksanakan.Berhasilnya sebuah pembangunan ditingkat terbawah dapat dipengaruhi dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat seperti gotong royong membersihkan lingkungan, kegiatan sosial lainnya, kepedulian masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, yang menjadi modal sosial (social capital) pembangunan. Oleh karena itu Kecamatan Denpasar Timur menerapkan strategi ini dengan membuat Surat Keputusan Nomor  25 Tahun 2013 Tentang Pembentukan Komunitas Kali Bersih Tukad Bindu Kecamatan Denpasar Timur.

Dengan membuat komunitas kali bersih ini maka yang berperan aktif adalah masyarakat itu sendiri. Uniknya kondisi ini akan merubah pola partisipasi pembangunan dengan cepat yaitu dari top down menjadi botton upsehingga dalam memecahkan suatu masalah dapat dilakukan dengan lebih cepat karena tingkat kepedulian masyarakat akan sungai yang bersih menjadi tujuan bersama yang dimassalkan melalui organisasi Banjar disekitar sungai tersebut.

 

D.   Pelaksanaan dan Penerapan

Dengan dibentuknya komunitas kali bersih melalui surat keputusan Camat Denpasar Timur Nomor 25 Tahun 2013 dengan tugas dan tanggungjawab menyusun program kerja komunitas, mengawasi dan memantau kebersihan sungai dan menjaga kelestarian sungai Bindu. Adapun rencana aksi yang telah dilaksanakan adalah :

1.    Rencana pavingisasi sempadan sungai untuk penyelamatan DAS

2.    Rencana penghijauan sepanjang sisi paving untuk keasrian lingkungan

3.    Rencana Pengembangan obyek atau rekreasi olahraga air dan tempat lomba memancing

Dari seluruh rencana tersebut yang didesain oleh partisipasi komunitas kali bersih dan tokoh masyarakat Banjar yang dibantu oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar serta dari Badan Lingkungan Hidup untuk mengembangkan DAS Tukad Bindu (sungai Bindu) menjadi sebuah obyek rekreasi local yang terutama untuk menjaga kelestarian dan kualitas air sungai

E.   Dampak Sebelum dan Sesudah

 

Dalam mengembangkan kegiatan program kali bersih dan penyelamatan lingkungan DAS Tukad Bindu yang juga akan dikembangkan sebagai kawasan atau obyek untuk kegiatan lomba mancing bagi masyarakat terutama Banjar Ujung dan Banjar Abianangka yang tentunya masih sering dipergunakan untuk arena berenang dimana kegiatan pavingisasi sempadan untuk joging track mempergunakan sumber keuangan dari APPK Kelurahan Kesiman Tahun 2012-2013, APBD dari Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kota denpasar pada Tahun 2014, dan APBDes Kesiman Petilan pada Tahun 2015  serta menggunakan sumber daya manusia yakni Kelompok Komunitas Kali Bersih Tukad Bindu sebagai penggerak dan motivator pengembangan kawasan tukad Bindu (sungai Bindu ) ini.

Adapun output yang telah tampak adalah perubahan pemahaman masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai lagi, joging track sudah dipergunakan untuk olahraga pada hari minggu oleh beberapa masyarakat, kegiatan rutin berupa lomba mancing air deras sudah dilaksanakan pada tahun 2014 dan tahun 2015 oleh masyarakat lokal yang diikuti oleh masyarakat sampai keluar kota denpasar.

Untuk keberhasilan dari kegiatan komunitas kali bersih tentunya haruslah dipantau  dan di evaluasi pelaksanaannya yaitu  dengan melakukan kegiatan pertemuan dan kerjabakti di DAS sungai Bindu secara berkala dan berkelanjutan sehingga didapat kendala yang dihadapi oleh komunitas dalam mengetoktularkan aksi menjaga kebersihan sungai Bindu. Adapun kendala utama dalam kegiatan komunitas kali bersih yang telah dibentuk adalah belum ada dukungan dari masyarakat di hulu sungai di lintas kecamatan maupun kabupaten sehingga masih saja ada sampah yang melewati sungai walaupun sudah jauh mengalami peningkatan dan kendala lainnya adalah komunitas ini tidak ada dana khusus dari APBD sehingga betul-betul mandiri dari segi pendanaan dan dilakukan upaya penyelesaian melalui donatur yang peduli akan kebersihan sungai Bindu.

 

 

 

Dengan adanya Kelompok komunitas kali bersih telah dapat membawa perubahan yang cukup baik bagi kebersihan dan kondisi fisik serta yang terpenting adalah adanya perubahan daya pikir (pemahaman ) masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitarnya. Dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat sekitarnya adalah dengan bantuan pembuatan pelestarian DAS tukad Bindu dengan pavingisasi dan tanaman penghijauan yang dipergunakan untuk sarana lomba mancing membawa juga berkah penjual dadakan saat lomba mancing dan terutama dampak yang besar adalah terselamatkannya sempadan sungai dari pembangunan perumahan yang semakin cepat berkembang,  Sehingga kebersihan sungai akan selalu dapat dipantau dan dijaga oleh masyarakat sekitarnya bahkan dengan dibuatkan arena bermain untuk anak-anak merupakan bentuk pelayanan kepada anak-anak sebagai kota besar mendukung kota layak anak seperti tampak dalam gambar berikut :

 

 

Gb. 1. Kondisi Awal Sungai Bindu Tahun 2011

 

Gb.2. Kondisi Sungai Sebelum Tahun 2012

 

 

 

 

IMG_5191

   Gb.3. Kunjungan Walikota ke Sungai Bindu

             Saat Lomba Kali Bersih Th.2012

IMG_4955

Gb.4. Kerjabakti bersama TNI dan masyarakat Th.2012

IMG_3330

      Gb.5. Sempadan mulai dipaving di sisi

Barat sungai Th.2012

 

                                                                  Gb.6 Rapat Pembentukan Komunitas Kali Bersih di Pinggir Sungai  Tahun 2013

Dipimpin oleh Camat Denpasar Timur

Gb.7 Kondisi DAM Sungai Bindu

       Sebelum Tahun 2012

 

Gb.8 Taman Rekreasi di DAM Bindu

yang dibuat Tahun 2015

 

Gb. 9. Taman bermain anak dibuat Tahun 2015

 

Gb. 10 Penataan Sungai yang dikunjungi

         Oleh Walikota Denpasar Th 2015

 

F.     Keberlanjutan 

 

Pembentukan kelompok komunitas kali bersih sebagai strategi kecamatan dalam meningkatkan peran aktif masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan membawa dampak sebagai pembelajaran dalam mensukseskan kegiatan-kegiatan lainnya untuk kepentingan masyarakat. Sehingga program kegiatan pemerintah akan lebih cepat berhasil daripada memaksakan kegiatan dari pemerintah saja. Untuk kedepannya partisipasi semacam ini harus terus diupayakan agar pembangunan dapat berhasil guna.

Program kali bersih dengan pembentukan kelompok komunitas ini tentunya akan terus dikembangkan dan dilanjutkan untuk tujuan pembiasaan kepada masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan disekitarnya, terutama bagaimana masyarakat sudah mulai paham akan pentingnya kualitas air permukaan maupun air bawah tanah dengan menjaga lingkungan alam sekitarnya, walaupun hidup di kota besar yang sesak dan padat penduduk tetapi kebersihan sungai tetap terjaga dan bahkan program kali bersih ini sudah mulai menular ke sungai yang lain atau sambungan sungai Bindu di Kelurahan yang berbeda di Kecamatan Denpasar Timur, dengan demikian sungai yang ada di perkotaan yang biasanya dikatakan jorok dan kotor tidak berlaku untuk sungai Bindu Kelurahan Kesiman dan  Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur sehingga dapat dikatakan “ SUNGAI KOTA RASA DESA”sebagai ungkapan bahwa sungai di Kotapun bisa bersih asri dan menyenangkan seperti layaknya sungai di Pedesaan yang masih bersih.

Artikel Lainnya

Antisipasi Musim Hujan 6

Antisipasi Musim Hujan 5

Antisipasi Musim Hujan 4

Antisipasi Musim Hujan 3

Antisipasi Musim Hujan 2